Prabumulih,
18 Oktober 2016 adalah hari peringatan ulang tahun kota prabumulih yang ke-15
di selenggarakan oleh pemerintah kota berupa pawai keliling kota dengan membawa
atribut dan kreasi masing-masing untuk memeriahkan acara sebagai wujud cinta
kita pada kota prabumulih.
Panas terik matahari memaksa
keringat kami keluar dengan sendirinya, haus seolah menjadi sifat alami kami
dan minum adalah sahabat terbaik kami pada hari ini tapi semua itu tidak
menyurutkan niat kami untuk meninggalkan
barisan berani mati menantang panasnya
mentari siang untuk tetap berdiri kokoh
sampai akhir acara.
Motor yang kami kendarai adalah
sebelas motor yang melambangkan 11 SK kota kumuh se-Kota Prabumulih dengan
hiasan delapan Indikator kota kumuh, dua logo kotaku ditambah satu logo PU dan
logo Pemkot Prabumulih. Bagian depan kami hiasi sebuah mobil pick up dengan
banner dan balon pelepasan launching kegiatan Kotaku Prabumulih.
Perjalanan
kami dimulai dari pertamina dengan
mengiringi mobil hias dari PU dan pertamina. Pukul 10.00 telah berbaris
bagaikan anak sma yang merindukan pawai bersama teman-temannya saat hari
kemerdekaan dan berakhir pukul 17.30 tepat sampai di korkot dengan lelah dan
bahagia menjadi satu. Tapi bukan itu yang akan aku bahas, kali ini yang aku
bahas adalah tentang kesadaran masyarakat saat sedang terjadi pesta rakyat.
Sepanjang perjalanan
ketika kami sedang pawai malu rasanya tapi
mau bagaimana lagi itulah kenyataanya, tepat di sepanjang jalan menuju
panggung walikota sampah makanan, botol dan juga sampah koran bertebaran
dimana-mana tanpa ada yang memperhatikannya. Saat kendaraan kami lewat dengan
membawa selogan KOTAKU Kota Tanpa Kumuh tapi
di sekitar kami seolah menjadi kota terkumuh dengan penuh penduduk. Di sepanjang jalan kota
Prabumulih telah ada penampungan sampah yang besar dengan kapasitas penampung
yang memadai tapi karena kurangnya rasa kesadaran masyarakat menjadi faktor
utama rusaknya dan kumuhnya suatu daerah. Seolah dia tidak merasakan pemandangan yang dia
alami. Tugas kita memang menyadarkan masyarakat tetapi tantangannya adalah menyadarkan masyarakat
yang sudah tidak mau disadarkan dan tidak peduli dengan lingkungan seperti hari
ini.
Aku teringat
desa Tanjung Telang yang berada di ujung kota prabumulih, desa yang melewati
perkebunan karet yang panjang. Disana memang belum tertata dengan rapi tapi
masyarakatnya telah mengenal yang namanya kebersihan, walau kotak sampah belum
ada tapi mereka mengumpulkan di satu tempat dan dibakar dengan sendirinya,
walau pasar masih kecil tapi tidak seperti pasar yang sering saya bayangkan
yaitu pasar yang penuh dengan sampah dan kotor, walaupun daerah yang tingkat
pembangunan yang masih belum memadai tetapi dia bukan termasuk kategori daerah
kumuh. Bukan karena mereka semua sudah tidak butuh bantuan tetapi kesadaran
mereka terhadap kebersihan itu telah tumbuh sejak dini. Satu hal yang menarik
dari desa Tanjung Telang adalah semua Kadus (Kepala Dusun) berprofesi sebagai
pengajar TPA, orang yang paham agama dan ingin memajukan daerahnya atas
landasan agama.
Kesimpulannya
adalah tingkat kumuh suatu daerah bisa dikurangi dengan meningkatkan kapasitas
pemahaman agama kepada masyarakatnya sehingga melahirkan rasa sayang kepada
daerahnya dan rasa sadar akan pentingnya kebersihan, tak hanya itu dengan
pemahaman yang kuat akan menambah rasa gotong royong antar sesama warga menjadi
semakin hebat, prinsip dasarnya adalah “semua muslim itu adalah saudara”.
UNTUK
KRITIK DAN SARAN
Silahkan
hubungi :
FEBRIAN
ISKANDAR (Fasilitator Sosial)
www.udofebrian.com
082187921348 / udo.febrian@gmail.com

