Minggu, 30 Oktober 2016

Memetik Buah Pelajaran Saat Ekspedisi Ultah Prabumulih

Prabumulih, 18 Oktober 2016 adalah hari peringatan ulang tahun kota prabumulih yang ke-15 di selenggarakan oleh pemerintah kota berupa pawai keliling kota dengan membawa atribut dan kreasi masing-masing untuk memeriahkan acara sebagai wujud cinta kita pada kota prabumulih.  
            Panas terik matahari memaksa keringat kami keluar dengan sendirinya, haus seolah menjadi sifat alami kami dan minum adalah sahabat terbaik kami pada hari ini tapi semua itu tidak menyurutkan niat kami untuk  meninggalkan barisan  berani mati menantang panasnya mentari  siang untuk tetap berdiri kokoh sampai  akhir acara.
            Motor yang kami kendarai adalah sebelas motor yang melambangkan 11 SK kota kumuh se-Kota Prabumulih dengan hiasan delapan Indikator kota kumuh, dua logo kotaku ditambah satu logo PU dan logo Pemkot Prabumulih. Bagian depan kami hiasi sebuah mobil pick up dengan banner dan balon pelepasan launching kegiatan Kotaku Prabumulih.
            Perjalanan kami  dimulai dari pertamina dengan mengiringi mobil hias dari PU dan pertamina. Pukul 10.00 telah berbaris bagaikan anak sma yang merindukan pawai bersama teman-temannya saat hari kemerdekaan dan berakhir pukul 17.30 tepat sampai di korkot dengan lelah dan bahagia menjadi satu. Tapi bukan itu yang akan aku bahas, kali ini yang aku bahas adalah tentang kesadaran masyarakat saat sedang terjadi pesta rakyat.
            Sepanjang perjalanan ketika kami sedang pawai malu rasanya tapi  mau bagaimana lagi itulah kenyataanya, tepat di sepanjang jalan menuju panggung walikota sampah makanan, botol dan juga sampah koran bertebaran dimana-mana tanpa ada yang memperhatikannya. Saat kendaraan kami lewat dengan membawa selogan KOTAKU Kota Tanpa Kumuh tapi  di sekitar kami seolah menjadi kota terkumuh dengan  penuh penduduk. Di sepanjang jalan kota Prabumulih telah ada penampungan sampah yang besar dengan kapasitas penampung yang memadai tapi karena kurangnya rasa kesadaran masyarakat menjadi faktor utama rusaknya dan kumuhnya suatu daerah. Seolah  dia tidak merasakan pemandangan yang dia alami. Tugas kita memang menyadarkan masyarakat tetapi  tantangannya adalah menyadarkan masyarakat yang sudah tidak mau disadarkan dan tidak peduli dengan lingkungan seperti hari ini.
Aku teringat desa Tanjung Telang yang berada di ujung kota prabumulih, desa yang melewati perkebunan karet yang panjang. Disana memang belum tertata dengan rapi tapi masyarakatnya telah mengenal yang namanya kebersihan, walau kotak sampah belum ada tapi mereka mengumpulkan di satu tempat dan dibakar dengan sendirinya, walau pasar masih kecil tapi tidak seperti pasar yang sering saya bayangkan yaitu pasar yang penuh dengan sampah dan kotor, walaupun daerah yang tingkat pembangunan yang masih belum memadai tetapi dia bukan termasuk kategori daerah kumuh. Bukan karena mereka semua sudah tidak butuh bantuan tetapi kesadaran mereka terhadap kebersihan itu telah tumbuh sejak dini. Satu hal yang menarik dari desa Tanjung Telang adalah semua Kadus (Kepala Dusun) berprofesi sebagai pengajar TPA, orang yang paham agama dan ingin memajukan daerahnya atas landasan agama.

Kesimpulannya adalah tingkat kumuh suatu daerah bisa dikurangi dengan meningkatkan kapasitas pemahaman agama kepada masyarakatnya sehingga melahirkan rasa sayang kepada daerahnya dan rasa sadar akan pentingnya kebersihan, tak hanya itu dengan pemahaman yang kuat akan menambah rasa gotong royong antar sesama warga menjadi semakin hebat, prinsip dasarnya adalah “semua muslim itu adalah saudara”.



 UNTUK KRITIK DAN SARAN
Silahkan hubungi :
FEBRIAN ISKANDAR (Fasilitator Sosial)
www.udofebrian.com
082187921348 / udo.febrian@gmail.com


0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com